Tradisi Kokor Gola Enau Masyarakat Manggarai
Gula bagi warga Manggarai sudah tidak asing karena penduduk setempat telah menemukan solusi gula lokal.Warga masyarakat Flores Manggarai, NTT, khususnya di Kampung Pacar Kolang Kabupaten Manggarai Barat di zaman sebelum Indonesia merdeka sudah mampu menghasilkan gula secara tradisional.Warga pacar Kolang,menyebutnya dengan Kokor Gola (bahasa Manggarai) atau Masak Gula.
Tradisi ini di wariskan secara turun temurun dan masih bisa di temukan hingga saat ini
Proses Kokor Gula di lakukan warga Pacar kolang,dengan mencari pohon enau yang sedang berbuah.Dari buah enau menurut sebutan orang Manggarai Buah Raping itu kemudian di pukul hingga lembek dan mengeluarkan air lalu di iris (Pante,bahasa Manggarai) air jus buah enau di tampung dalam gogong (bambu) sebagai tempayan.
Proses Kokor Gula di lakukan warga Pacar kolang,dengan mencari pohon enau yang sedang berbuah.Dari buah enau menurut sebutan orang Manggarai Buah Raping itu kemudian di pukul hingga lembek dan mengeluarkan air lalu di iris (Pante,bahasa Manggarai) air jus buah enau di tampung dalam gogong (bambu) sebagai tempayan.
Proses pemukulan batang buah enau atau Ndara memakan waktu satu bulan hingga air tetesan buah mengalir.Air enau minze bisa menghasilkan manis maupun dapat di proses menjadi alkohol,"tutur warga Pacar kolang.Penghasil kokor gola,bisa menukarkan hasil produksinya berupa beras atau kopi. Kearifan lokal orang pedalaman masih di gunakan dan dapat menjual gula mèrah hingga saat ini.
Warga Pacar kolang,mengaku gola merah memiliki kasiat tersendiri dapat menghilangkan sakit lambung mengurangi sakit maah atau Lambung.Proses gula secara tradisional ini perlu didukung dengan proses pemasaran sehingga orang yang bekerja membuat gula tradisional bisa menafkahi hidup.